Menu ✖

Mode Gelap
Pedang Pora Warnai Pelepasan Wakapolda Sulteng Helmi Kwarta ke Mabes Polri Kapolda Rizal Irawan Pimpin Sertijab Wakapolda Sulteng dan Kapolres Parimo Hadiri Pesantren Lansia, Wagub Reny Ajak Lansia Jaga Kesehatan dan Perkuat Iman Kapolda Sulteng Gelar Jumat Keliling, Ajak Masyarakat Jaga Keamanan Bersama Buka Festival Danau Poso 2026, Anwar Hafid Tekankan Budaya, Lingkungan, dan Ekonomi Rakyat Polda Sulteng dan BNNP Kembali Gerebek Kayumalue, Dua Orang Diamankan

Inspirasi

Iduladha dan Sunyi yang Tidak Pernah Kita Sentuh

badge-check


					Foto Ilustrasi Perbesar

Foto Ilustrasi

Karama.id, Di tengah dunia yang makin bising, Iduladha hadir bagai sunyi yang menenangkan. Bukan sunyi yang kosong, tetapi sunyi yang penuh makna—sunyi yang mengajak manusia menepi sejenak, menunduk, dan merenung: siapa diri kita sebenarnya?

Generasi hari ini tumbuh dalam gegap gempita informasi. Kita mendengar suara dari ribuan arah, tapi kerap mengabaikan suara yang datang dari dalam. Kita tahu tren terbaru, tetapi lupa mendengarkan nurani sendiri. Iduladha bukan sekadar tentang menyembelih hewan kurban. Ia adalah ajakan untuk menyembelih kebisingan batin, memotong egoisme, dan mengikis kerak ambisi pribadi.

Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan Ismail, itu bukan tentang kehilangan, tapi tentang penyerahan total kepada sesuatu yang lebih tinggi. Lalu, apa yang bisa kita korbankan hari ini? Mungkin bukan anak, bukan harta, bukan jabatan. Tapi bagaimana jika yang harus kita korbankan adalah kesombongan kita? Ketakutan kita? Keengganan untuk berubah?

Iduladha mengajarkan kita bahwa tidak semua pengorbanan harus terlihat oleh dunia. Ada pengorbanan yang hanya diketahui oleh hati dan Tuhan. Seperti memaafkan diam-diam. Seperti menahan diri dari balasan. Seperti berbuat baik tanpa pamrih.

Di tengah arus pencitraan dan kegilaan eksistensi, nilai-nilai pengorbanan yang tenang, sunyi, dan dalam inilah yang justru paling berharga. Karena pada akhirnya, Iduladha bukan sekadar perayaan. Ia adalah pengingat. Bahwa hidup bukan soal memiliki segalanya, tapi tentang merelakan sebagian, untuk menjadi manusia yang lebih jernih dan lebih jujur pada diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Inspirasi