Menu ✖

Mode Gelap
Pedang Pora Warnai Pelepasan Wakapolda Sulteng Helmi Kwarta ke Mabes Polri Kapolda Rizal Irawan Pimpin Sertijab Wakapolda Sulteng dan Kapolres Parimo Hadiri Pesantren Lansia, Wagub Reny Ajak Lansia Jaga Kesehatan dan Perkuat Iman Kapolda Sulteng Gelar Jumat Keliling, Ajak Masyarakat Jaga Keamanan Bersama Buka Festival Danau Poso 2026, Anwar Hafid Tekankan Budaya, Lingkungan, dan Ekonomi Rakyat Polda Sulteng dan BNNP Kembali Gerebek Kayumalue, Dua Orang Diamankan

Pariwisata

Fadli Zon Tinjau ‘Negeri 1.000 Megalit’ Poso, Targetkan Jadi Destinasi Budaya Dunia

badge-check


					Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., bersama Wakil Gubernur Sulteng, dr. Reny A Lamadjido, saat kunjungan kerja ke Kawasan Cagar Budaya Lore Lindu, tepatnya di Lembah Behoa, Kecamatan Lore Tengah. (Foto: Istimewa) Perbesar

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., bersama Wakil Gubernur Sulteng, dr. Reny A Lamadjido, saat kunjungan kerja ke Kawasan Cagar Budaya Lore Lindu, tepatnya di Lembah Behoa, Kecamatan Lore Tengah. (Foto: Istimewa)

Karama.id – Poso, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., melakukan kunjungan kerja ke Kawasan Cagar Budaya Lore Lindu, tepatnya di Lembah Behoa, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Senin (29/12/2025). Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau potensi besar kawasan megalitik yang diperkirakan telah berusia 2.000 tahun.

Tiba di kawasan yang dijuluki “Negeri 1.000 Megalit” tersebut, Menteri Kebudayaan yang didampingi Wakil Gubernur Sulteng, dr. Reny A. Lamadjido, disambut dengan prosesi adat Pepomahile. Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat adat Lembah Behoa melakukan pemasangan Siga dan pengalungan Saliawa kepada rombongan.

Dalam kunjungannya, Fadli Zon meninjau beberapa situs ikonik seperti Megalit Tadulako dan Megalit Pokekea. Ia mengaku sangat terkesan dengan kekayaan arkeologi yang ada di jantung Sulawesi tersebut.

“Situs ini harus kita lindungi bersama. Kawasan ini memiliki daya tarik luar biasa dan berpotensi besar dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya kelas dunia,” ujar Fadli Zon di sela-sela peninjauan.

Namun, ia juga menyoroti berbagai tantangan yang mengancam keberadaan tinggalan purbakala tersebut. Menurutnya, kesadaran masyarakat dan upaya perlindungan fisik harus ditingkatkan guna meminimalisir kerusakan.

“Tantangannya cukup besar, mulai dari vandalisme hingga pengaruh cuaca yang menyebabkan pelapukan. Harapannya, kawasan ini tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga di tingkat dunia,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, Menteri Kebudayaan mendorong pelaksanaan konservasi preventif, termasuk pemasangan pembatas di area situs untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Selain fokus pada pelestarian batu, rombongan juga melakukan penanaman pohon durian di Situs Tadulako sebagai simbol sinergi antara pelestarian lingkungan dan warisan budaya.

Kunjungan ini diakhiri dengan penyerahan cenderamata berupa miniatur patung Palindo dan rumah adat Tambi dari kayu eboni. Turut mendampingi dalam rombongan tersebut Dirjen Pelestarian dan Tradisi Dr. Restu Gunawan, Staf Khusus Menteri Rachmanda Primayudha, serta jajaran Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah dan Kabupaten Poso.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Pariwisata