Karama.id – Palu, Sebanyak sembilan lulusan Program Studi Diploma III Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako (Untad) resmi diambil sumpah profesinya sebagai perawat. Prosesi pengambilan sumpah dilaksanakan pada Rabu pagi di Aula Baru Fakultas Kedokteran Untad, disaksikan oleh jajaran pimpinan universitas dan fakultas, serta keluarga lulusan dan tamu undangan.
Kesembilan lulusan tersebut adalah Amanda Mentari, Muhammad Arfandi, Nia Agniyah Awaliyah, Nyoman Dewi Sutriasih, Ian Saskia, Nur Fadilah, Nurul Salsabila, Indri Musdalipa, dan Farhana Dwi Nurlita.

Amanda Mentari dinobatkan sebagai lulusan terbaik angkatan ke-IX dengan IPK 3,73 dan predikat Sangat Memuaskan.
Dalam sesi penyampaian kesan dan pesan, Nyoman Dewi Sutriasih, perwakilan lulusan, menyampaikan rasa syukur dan haru atas pencapaian yang diraih bersama teman-temannya.
“Perjalanan ini bukan singkat dan tidak mudah. Tapi dari setiap tantangan, kami belajar saling menguatkan. Terima kasih kepada para dosen, orang tua, dan sahabat seperjuangan. Menjadi perawat bukan hanya soal ilmu, tapi tentang hadir dengan hati yang tulus,” ujarnya penuh haru.
Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Provinsi Sulawesi Tengah, Masri Dg. Taha, S.Kep., M.Kep., dalam sambutannya menyampaikan selamat kepada para perawat muda yang baru saja mengucapkan sumpah profesi.
“Tanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam sumpah tersebut. Jalankan tugas dengan tanggung jawab dan bergabunglah dengan organisasi profesi agar kita bisa tumbuh dan berkembang bersama,” imbaunya.
Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. dr. Sumarni, M.Kes., Sp.GK, juga memberikan pesan inspiratif agar lulusan terus melanjutkan pendidikan dan menjaga semangat belajar.
“Jangan cepat puas. Pendidikan tidak berhenti di sini. Sumpah yang kalian ucapkan bukan sekadar formalitas, tapi janji yang tertanam dalam hati dan harus dijalankan di mana pun kalian berada,” katanya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum, Prof. Dr. Ir. M. Rusydi H., M.Si., menekankan pentingnya tanggung jawab moral dan integritas dalam menjalani profesi keperawatan.
“Ilmu kalian bukan hanya untuk mengganti perban atau menyuntik pasien. Perawat adalah pendengar, penolong, dan penyemangat dalam momen-momen sulit pasien. Maka tetaplah rendah hati, terus belajar, dan jangan lupakan asal kalian,” tuturnya.
Ia juga mendorong para lulusan untuk menguasai bahasa asing agar mampu bersaing di tingkat global.
“Kuasai bahasa internasional sebagai bekal agar kalian bisa membawa nama baik Untad ke dunia,” tambahnya.
Prosesi ditutup dengan doa dan harapan agar para lulusan dapat menjadi tenaga kesehatan yang profesional, beretika, dan tulus mengabdi kepada masyarakat.














