Kepala LPPM Untad, Dr. Lukman, M.Hum., dalam sambutannya menegaskan pentingnya penguatan kolaborasi antara Untad dan ITB untuk meningkatkan kapasitas riset, kualitas publikasi ilmiah, sekaligus mempercepat lahirnya inovasi yang relevan dengan kebutuhan daerah.
“ITB memiliki ekosistem riset yang sangat kuat, dengan laboratorium yang lengkap, SDM berpengalaman, dan jejaring industri yang luas. Ini menjadi ruang belajar yang sangat berharga bagi para peneliti Untad untuk meningkatkan kapasitas riset dan kualitas publikasi ilmiah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, melalui kerja sama ini peneliti Untad berpeluang mendapatkan mentoring, joint supervision, serta pendampingan metodologi riset yang lebih sistematis. Pada aspek publikasi, kolaborasi dengan ITB diharapkan membuka jalan lebih lebar bagi dosen Untad untuk menembus jurnal bereputasi internasional, khususnya terindeks Scopus Q1–Q3, melalui skema joint writing, co-authoring, hingga research clinic.
“Kolaborasi seperti ini tidak hanya mendorong peningkatan kualitas naskah ilmiah, tetapi juga berdampak pada penguatan sitasi dan h-indeks dosen Untad. Pada saat yang sama, kinerja LPPM dan universitas dalam capaian IKU dan pemeringkatan nasional juga akan ikut terdongkrak,” tambahnya.
Dr. Lukman turut menyoroti pentingnya transfer teknologi dan penguatan laboratorium. Menurutnya, keunggulan ITB di bidang teknik, sains data, geospasial, energi, maritim, dan kebencanaan membuka peluang kerja sama yang luas, mulai dari penggunaan fasilitas bersama (shared facilities) hingga hilirisasi riset yang berbasis kebutuhan Sulawesi Tengah.
“Isu-isu strategis daerah seperti kebencanaan, tata ruang, pengelolaan sumber daya alam, dan ketahanan energi memerlukan dukungan riset yang kuat. Sinergi Untad–ITB menjadi salah satu kunci percepatan inovasi yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” jelasnya.
Ia berharap workshop ini menjadi pintu pembuka lahirnya lebih banyak kolaborasi riset lintas institusi, baik dalam bentuk publikasi, hak kekayaan intelektual, prototipe teknologi, maupun paten yang dapat dimanfaatkan dunia industri dan masyarakat.
Usai sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Prof. Dr. Satria Bijaksana dengan judul “Membangun Riset yang Kondusif”. Dalam paparannya, ia mengulas pentingnya budaya riset yang terencana, lingkungan akademik yang suportif, serta jejaring kolaboratif untuk melahirkan penelitian yang berkelanjutan dan bereputasi.