Karama.id – Palu, Universitas Tadulako (Untad) melalui Fakultas Kedokteran menjalani evaluasi lapangan usulan pembukaan tiga Program Studi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), yakni Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn), Spesialis Penyakit Dalam, dan Spesialis Ilmu Bedah. Kegiatan evaluasi lapangan tersebut dilaksanakan pada Senin, 12 Januari 2026, bertempat di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako.
Rektor Universitas Tadulako, Amar, menyampaikan bahwa pembukaan program studi spesialis merupakan langkah strategis Untad dalam menjawab kebutuhan riil daerah terhadap tenaga dokter spesialis, khususnya di Sulawesi Tengah.

“Kita menghadapi backlog dokter spesialis yang cukup besar. Oleh karena itu, Universitas Tadulako merasa memiliki tanggung jawab moral dan institusional untuk menghadirkan pendidikan spesialis di daerah, agar putra-putri Sulawesi Tengah tidak lagi harus keluar provinsi untuk melanjutkan pendidikan,” tegas Rektor dalam sambutannya.
Menurut Rektor, kualitas lulusan Fakultas Kedokteran Untad selama beberapa tahun terakhir menunjukkan capaian yang sangat baik. Tingkat kelulusan mahasiswa kedokteran secara nasional berada di atas standar, sehingga menjadi modal penting dalam pengembangan program pendidikan spesialis.
“Alhamdulillah, tingkat kelulusan lulusan kedokteran kita berada di kisaran 88 hingga 90 persen. Ini menunjukkan bahwa secara akademik kita siap, dan tentu kesiapan ini harus diikuti dengan penguatan sarana, prasarana, serta rumah sakit pendidikan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga menyampaikan perkembangan pembangunan Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tadulako pascabencana 2018 yang hingga akhir 2025 telah mencapai hampir 90 persen. Ia mengakui adanya kendala teknis pada proses lelang, namun memastikan penyelesaian fasilitas utama seperti ruang operasi, sistem IPAL, dan kelistrikan ditargetkan rampung pada pertengahan 2026.
“Rumah sakit pendidikan ini kami rancang bukan hanya sebagai sarana pendidikan, tetapi juga sebagai pusat rujukan pelayanan kesehatan yang modern, terintegrasi, dan adaptif terhadap teknologi, termasuk digitalisasi layanan dan pengembangan teknologi kesehatan berbasis kecerdasan buatan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rektor menegaskan bahwa Fakultas Kedokteran Untad diarahkan menjadi pusat keunggulan berbasis karakteristik wilayah, termasuk kesiapsiagaan bencana mengingat posisi Sulawesi Tengah yang dilalui Patahan Palukoro, serta pemanfaatan kekayaan biodiversitas kawasan Wallacea untuk pengembangan riset dan obat-obatan.
“Kita ingin Fakultas Kedokteran Untad tumbuh sesuai dengan karakter wilayahnya. Bukan hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dengan tantangan kebencanaan dan potensi alam Sulawesi Tengah,” tambahnya.
Evaluasi lapangan ini turut melibatkan pemaparan kesiapan akademik, sumber daya manusia, jejaring rumah sakit pendidikan, serta dukungan kerja sama dengan rumah sakit mitra seperti RS Undata dan RS Anutapura. Melalui pembukaan tiga program studi spesialis tersebut, Untad berharap distribusi tenaga medis di Sulawesi Tengah dapat semakin merata dan kualitas layanan kesehatan masyarakat terus meningkat.














