Karama.id – Palu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) RI, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., mendorong Universitas Tadulako (Untad) mengambil peran lebih besar dalam pengembangan riset dan edukasi kebencanaan di Indonesia Timur. Hal itu disampaikannya saat melakukan kunjungan kerja ke Untad, Minggu (21/6/2026), untuk meninjau kondisi kampus pascagempa sekaligus perkembangan pembangunan Nalodo Research Center.
Dalam kunjungannya, Prof. Fauzan meninjau sejumlah fasilitas kampus yang terdampak gempa serta pembangunan Gedung Pusat Laboratorium Gempa yang menjadi bagian dari Nalodo Research Center. Menurutnya, dampak gempa yang terjadi di lingkungan kampus relatif ringan, namun harus menjadi pelajaran penting untuk meningkatkan kualitas dan ketahanan bangunan terhadap bencana.

“Kami melihat ada beberapa titik yang mengalami kerusakan ringan. Ini harus menjadi pelajaran berharga. Kerusakan yang terjadi dapat dijadikan referensi untuk memperbaiki struktur bangunan agar lebih tahan terhadap gempa,” ujarnya.
Gempa M6,7 Guncang Palu, Sejumlah Gedung Pascarekonstruksi 2018 di Untad Kembali Mengalami Kerusakan
Prof. Fauzan menegaskan, perguruan tinggi harus menjadi bagian dari solusi melalui riset dan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Perguruan tinggi harus menjadi bagian dari solusi. Riset yang dilakukan tidak boleh berhenti pada publikasi atau prototipe, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Menurutnya, pembangunan Nalodo Research Center merupakan langkah strategis karena tidak hanya melayani kebutuhan akademik Untad, tetapi juga berpotensi menjadi pusat kajian dan edukasi kebencanaan bagi daerah-daerah rawan gempa di Indonesia Timur.
“Di Tadulako saya kira banyak pakar gempa yang bisa diandalkan. Ke depan hasil kajian dan penelitian dari sini diharapkan dapat mengedukasi daerah-daerah yang memang berpotensi mengalami gempa,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi kebencanaan sejak dini kepada pelajar. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai risiko dan mitigasi bencana.
“Edukasi kepada anak-anak sekolah, mulai dari SD, SMP hingga SMA perlu segera dilakukan. Untad memiliki tanggung jawab moral untuk mengambil bagian dalam upaya tersebut,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Untad, Dr.sc.agr. Ir. Aiyen, M.Sc., menjelaskan bahwa Nalodo Research Center dirancang sebagai pusat riset gempa dan likuifaksi yang tidak hanya berfungsi sebagai laboratorium penelitian, tetapi juga sebagai sarana edukasi kebencanaan bagi masyarakat.
“Nalodo Research Center akan menjadi pusat kolaborasi riset nasional dan internasional. Selain mendukung penelitian, fasilitas ini juga akan menjadi ruang edukasi publik melalui simulasi gempa dan berbagai media pembelajaran kebencanaan,” jelasnya.
Menurut Dr. Aiyen, pembangunan fasilitas tersebut merupakan aspirasi para peneliti Untad pascagempa dan likuifaksi 2018. Saat ini progres fisik pembangunan telah mencapai sekitar 65 persen dan mencapai 96 persen apabila memperhitungkan material yang telah tersedia di lapangan.
“Targetnya selesai sesuai jadwal pada Oktober tahun ini. Total anggaran pembangunan gedung sekitar Rp75 miliar dan itu belum termasuk pengadaan peralatan,” katanya
Dr. Aiyen optimistis Nalodo Research Center akan menjadi salah satu pusat unggulan kebencanaan di Indonesia sekaligus memperkuat posisi Universitas Tadulako sebagai rujukan penelitian gempa dan mitigasi bencana di kawasan timur Indonesia.














