Menu ✖

Mode Gelap
Pedang Pora Warnai Pelepasan Wakapolda Sulteng Helmi Kwarta ke Mabes Polri Kapolda Rizal Irawan Pimpin Sertijab Wakapolda Sulteng dan Kapolres Parimo Hadiri Pesantren Lansia, Wagub Reny Ajak Lansia Jaga Kesehatan dan Perkuat Iman Kapolda Sulteng Gelar Jumat Keliling, Ajak Masyarakat Jaga Keamanan Bersama Buka Festival Danau Poso 2026, Anwar Hafid Tekankan Budaya, Lingkungan, dan Ekonomi Rakyat Polda Sulteng dan BNNP Kembali Gerebek Kayumalue, Dua Orang Diamankan

Pendidikan

Hardiknas 2026: Potret Pendidikan di Wana, Siswa Tanpa Sepatu dan Akses Terisolasi

badge-check


					Siswa SDN Kecil Wana Saat Menuliskan Cita-cita Mereka. (Foto: Karama.id) Perbesar

Siswa SDN Kecil Wana Saat Menuliskan Cita-cita Mereka. (Foto: Karama.id)

Karama.id – Palu, Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei 2026 menjadi momentum refleksi terhadap kondisi pendidikan di berbagai daerah, termasuk di wilayah Wana, Kelurahan Tipo, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu.

Di kaki Gunung Gawalise, realitas pendidikan masih dihadapkan pada keterbatasan akses dan fasilitas yang memprihatinkan. Masyarakat dan tenaga pendidik harus berjuang menghadapi medan sulit, terutama saat cuaca buruk melanda.

Kepala SD Negeri Kecil Wana, Sulaeman, S.Pd mengungkapkan bahwa kendala utama yang dihadapi adalah tidak adanya jembatan permanen sebagai akses menuju wilayah tersebut.

“Kendala utama kami ke sini adalah akses. Tidak ada jembatan permanen. Jika banjir, kami tidak bisa naik ke Wana,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini tidak hanya menghambat mobilitas guru, tetapi juga berdampak langsung pada aktivitas masyarakat, termasuk akses ke pasar, layanan kesehatan, dan pendidikan.

Ironisnya, meskipun sekolah lanjutan seperti SMP Negeri 8 Palu berada dalam jarak yang relatif dekat, keterbatasan akses membuat minat siswa untuk melanjutkan pendidikan menjadi rendah.

Selain persoalan infrastruktur, kondisi ekonomi siswa juga menjadi tantangan serius. Banyak siswa yang datang ke sekolah dengan fasilitas seadanya.

“Sebagian besar siswa masih menggunakan seragam lama. Bahkan ada yang tidak memiliki sepatu untuk bersekolah,” ungkap Sulaeman.

Keterbatasan tersebut juga terlihat saat kegiatan olahraga. Karena tidak memiliki pakaian olahraga, siswa terpaksa tetap menggunakan seragam merah putih saat beraktivitas fisik.

Sulaeman juga menyoroti masih minimnya dukungan orang tua terhadap pendidikan anak. Dalam banyak kasus, tanggung jawab pendidikan masih sepenuhnya dibebankan kepada pihak sekolah.

“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah, terutama pembangunan jembatan sebagai akses utama. Itu sangat penting untuk menunjang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat,” katanya.

Selain pembangunan infrastruktur, pihak sekolah juga berharap adanya bantuan berupa seragam, sepatu, serta perlengkapan belajar bagi siswa.

Momentum Hari Pendidikan Nasional ini menjadi pengingat bahwa pemerataan pendidikan belum sepenuhnya terwujud. Kondisi di Wana mencerminkan bahwa masih banyak wilayah yang membutuhkan perhatian serius, agar setiap anak bangsa dapat memperoleh hak pendidikan yang layak tanpa terhambat oleh keterbatasan akses dan ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Pendidikan