Menu ✖

Mode Gelap
Pedang Pora Warnai Pelepasan Wakapolda Sulteng Helmi Kwarta ke Mabes Polri Kapolda Rizal Irawan Pimpin Sertijab Wakapolda Sulteng dan Kapolres Parimo Hadiri Pesantren Lansia, Wagub Reny Ajak Lansia Jaga Kesehatan dan Perkuat Iman Kapolda Sulteng Gelar Jumat Keliling, Ajak Masyarakat Jaga Keamanan Bersama Buka Festival Danau Poso 2026, Anwar Hafid Tekankan Budaya, Lingkungan, dan Ekonomi Rakyat Polda Sulteng dan BNNP Kembali Gerebek Kayumalue, Dua Orang Diamankan

Pendidikan

Untad Terapkan CBT Pertama Kali untuk Seleksi Pascasarjana 2026

badge-check


					Pascasarjana Universitas Tadulako. (Foto: Istimewa) Perbesar

Pascasarjana Universitas Tadulako. (Foto: Istimewa)

Karama.id – Palu, Program Pascasarjana Universitas Tadulako (Untad) untuk pertama kalinya menerapkan sistem Computer-Based Test (CBT) dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru jenjang magister (S2) dan doktoral (S3) tahun 2026.

Ketua Pelaksana, Prof. Dr. Ir. I Wayan Sudarsana, S.Si., M.Si., mengatakan penerapan CBT dilakukan untuk memperluas akses bagi calon mahasiswa, terutama yang berasal dari luar Kota Palu.

“Karena mayoritas peserta berasal dari luar daerah, kami memutuskan menggunakan sistem tes online agar lebih efisien dan tidak membebani peserta dengan biaya perjalanan,” ujarnya.

Menurutnya, peserta seleksi berasal dari berbagai daerah, seperti Luwuk, Morowali, Gorontalo, Bogor, hingga Kalimantan. Dengan sistem CBT, peserta tidak perlu datang langsung ke kampus setelah melakukan pendaftaran dan pembayaran.

Seleksi Pascasarjana Untad dijadwalkan berlangsung pada 2–3 Mei 2026 secara daring. Pada tahap ini, tercatat 1.136 pendaftar, dengan 723 peserta yang telah menyelesaikan pembayaran dan mengikuti proses seleksi.

Antusiasme tinggi terlihat pada sejumlah program studi. Program Doktor Pendidikan mencatat lebih dari 30 peminat dari kuota maksimal 12 orang. Sementara itu, Program Studi Kesehatan Masyarakat menerima 86 pendaftar dari kuota 60 orang.

Peningkatan juga terjadi pada Program Magister Kimia, yang sebelumnya hanya memiliki satu pendaftar, kini naik menjadi delapan orang.

“Semua ini menunjukkan tren peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. CBT membuka peluang lebih luas bagi calon mahasiswa,” tambahnya.

Proses seleksi dilakukan melalui beberapa instrumen penilaian, meliputi Tes Potensi Akademik (TPA), kemampuan Bahasa Inggris, wawancara, serta penilaian portofolio. Wawancara digunakan untuk melihat komitmen, kesiapan, dan keseriusan peserta dalam menempuh studi di Untad.

Untuk menjaga integritas ujian, panitia menerapkan sistem pengawasan ganda. Peserta diwajibkan menggunakan dua perangkat, yakni satu perangkat utama untuk mengakses sistem CBT dan satu perangkat tambahan melalui Zoom untuk memantau lingkungan sekitar peserta.

Sebelum ujian dimulai, peserta juga diminta memastikan ruangan dalam kondisi steril dan tidak ada orang lain di sekitarnya.

“Dengan dua sistem pengawasan ini, potensi kecurangan dapat diminimalkan secara signifikan,” jelasnya.

Panitia telah melakukan berbagai persiapan teknis, termasuk pelatihan penggunaan sistem CBT kepada peserta sejak 26 April. Komunikasi aktif juga dilakukan melalui grup WhatsApp untuk membantu peserta mengatasi kendala teknis.

Pelaksanaan ujian pada akhir pekan dipilih karena sebagian peserta merupakan pekerja, baik ASN maupun karyawan swasta. Waktu tersebut dinilai lebih fleksibel dan memberi kesempatan bagi peserta dari daerah dengan keterbatasan jaringan untuk mencari akses internet yang lebih stabil.

Ke depan, Untad berkomitmen terus menggunakan sistem CBT dalam seleksi pascasarjana dengan penyempurnaan berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan tahun pertama.

“Walaupun ini adalah pelaksanaan pertama dan masih dalam tahap penyesuaian, kami optimistis ke depan sistem ini akan berjalan lebih baik dan stabil,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Pendidikan