Karama.id – Jakarta, Keluarga Firdaus Wajidi atau Daus, wartawan yang hilang kontak saat menjalankan tugas jurnalistik di kawasan Gunung Anak Krakatau, perairan Selat Sunda, Banten, menyatakan telah berusaha menerima insiden tersebut dengan lapang dada. Meski demikian, harapan agar Firdaus ditemukan masih tetap ada.
Hal itu disampaikan Diki, perwakilan keluarga Firdaus, dalam agenda Doa Bersama dan Penantian untuk Rekan-Rekan Kami di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin (21/9/2026). Diki mengatakan keluarga berupaya mengikhlaskan apa pun yang terjadi, terlebih karena Firdaus juga merupakan bagian dari insan pers.

“Kami sesama jurnalis juga dan kebetulan keluarga juga, tentu mengikhlaskan kepergian keluarga kami ini,” tutur Diki.
Namun, keluarga masih berharap adanya kepastian mengenai keberadaan Firdaus. Menurut Diki, apa pun kondisi yang nantinya diketahui akan sangat berarti bagi keluarga yang hingga kini masih menanti kabar.
Diki juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan berbagai organisasi pers yang telah memberikan dukungan sejak Firdaus dan rombongan dilaporkan hilang kontak. Dukungan moral maupun bantuan dalam proses pencarian dinilai sangat berarti bagi keluarga.
“Sekali lagi terima kasih untuk semuanya. Mohon dimaafkan jika ada kekurangan atau kesalahan dari keluarga kami,” ujarnya.
Sebelumnya, operasi SAR gabungan untuk mencari rombongan KM Arupadatu I resmi ditutup setelah berlangsung selama 10 hari. Kapal motor cepat tersebut membawa delapan orang dan dilaporkan hilang kontak pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Meski operasi pencarian dihentikan, pemerintah daerah bersama Basarnas menyatakan pencarian dapat kembali dilakukan apabila ditemukan petunjuk baru atau laporan terkonfirmasi dari masyarakat.
Rombongan tersebut terdiri atas lima wartawan, yakni M. Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu, serta Donal yang merupakan jurnalis lepas. Tiga lainnya adalah kru kapal dan pemandu, yakni Warta selaku kapten kapal, Surakman sebagai ABK, dan Heriyanto sebagai pemandu lokasi. *














