Karama.id – Palu, Upaya memperluas kemitraan di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu bahasan dalam pertemuan Universitas Tadulako (Untad) bersama Duta Besar Jerman untuk Republik Indonesia, His Excellency Ralf Beste, di Ruang Rapat Rektor Untad, Kamis (27/8/2026) sore.
Pertemuan tersebut membahas peluang membangun kerja sama yang lebih konkret dan berkelanjutan antara Untad dengan sejumlah institusi pendidikan dan mitra di Jerman.

Dalam sambutannya, Ralf Beste mengatakan kerja sama antaruniversitas merupakan salah satu agenda yang sangat penting dalam hubungan Jerman dan Indonesia. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk membangun hubungan jangka panjang melalui pertukaran mahasiswa, kolaborasi akademik, dan penelitian bersama.
“Kerja sama antar universitas merupakan salah satu agenda yang sangat penting bagi saya,” ujar Ralf Beste.
Ia mengatakan, perguruan tinggi selalu menjadi salah satu tujuan dalam berbagai kunjungannya ke Indonesia. Sejumlah universitas di Indonesia telah menjadi bagian dari jejaring kerja sama tersebut.
Ralf menilai hubungan akademik antara Jerman dan Indonesia memiliki sejarah panjang yang perlu terus dikembangkan. Keberadaan alumni Indonesia yang pernah menempuh pendidikan di Jerman, menurutnya, menjadi salah satu bukti nyata hubungan kedua negara di bidang pendidikan.
Ia juga mendorong peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia yang melanjutkan pendidikan di Jerman. Saat ini terdapat lebih dari 5.000 mahasiswa Indonesia di Jerman, namun jumlah tersebut masih jauh dibandingkan mahasiswa asal India yang mencapai sekitar 60.000 orang.
Menurutnya, peningkatan kesempatan beasiswa dan dukungan pemerintah dapat menjadi salah satu langkah untuk memperluas pertukaran mahasiswa antara kedua negara.
Ralf juga mendorong para pimpinan perguruan tinggi untuk aktif melihat peluang kerja sama yang dapat dikembangkan.
“Para rektor universitas juga dapat melakukan hal yang sama dengan melihat dan menanyakan peluang-peluang kerja sama yang dapat dikembangkan,” katanya.
Selain kerja sama pendidikan, Ralf menekankan pentingnya memastikan setiap program kerja sama memberikan dampak jangka panjang. Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kunjungannya ke Sulawesi Tengah bersama delegasi Kedutaan Besar Jerman dan GIZ.
Dalam kunjungan tersebut, delegasi Jerman melihat sejumlah proyek GIZ di Sulawesi Tengah, termasuk kawasan sekitar Lore Lindu. Kunjungan itu menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung hasil dan dampak dari berbagai bentuk kerja sama pembangunan yang telah dilakukan.
“Apa dampak jangka panjang dari berbagai proyek kerja sama tersebut? Apa dampak yang dapat bertahan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang?” ujarnya.
Ralf menilai keberhasilan kerja sama tidak hanya diukur dari keluaran intelektual atau ilmiah, tetapi juga dari kapasitas sumber daya manusia yang terbentuk, seperti jumlah lulusan, doktor, peneliti, dan akademisi yang kemudian melanjutkan kontribusinya di berbagai bidang.
Ia juga menyoroti pengalaman panjang kerja sama akademik melalui program DAAD dan Alexander von Humboldt Foundation yang telah berkontribusi terhadap pengembangan generasi peneliti dan akademisi.
Lebih lanjut, Ralf menjelaskan bahwa penguatan hubungan dengan Indonesia merupakan bagian dari strategi Jerman untuk memperluas dan mendiversifikasi kemitraan global. Indonesia dipandang sebagai salah satu mitra penting Jerman di kawasan Global South.
“Kami ingin memperluas kerja sama di berbagai bidang, baik akademik, bisnis, maupun kerja sama pembangunan,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Untad, Dr.sc.agr. Aiyen, M.Sc., mengapresiasi kunjungan Dubes Jerman beserta delegasi ke Universitas Tadulako.
Aiyen yang juga merupakan alumni University of Hohenheim, Jerman, mengatakan kunjungan tersebut memiliki makna tersendiri. Selain menjadi pertemuan diplomatik dan akademik, hubungan tersebut juga diperkuat oleh pengalaman pendidikan dan jejaring alumni yang telah terbentuk antara Untad dan institusi pendidikan di Jerman.
Ia menjelaskan, Untad memiliki hubungan akademik yang telah berlangsung cukup lama dengan sejumlah universitas di Jerman, terutama dalam bidang pertanian, lingkungan, keanekaragaman hayati, perubahan iklim, ekologi, serta pengelolaan dan transformasi penggunaan lahan secara berkelanjutan.
Menurut Aiyen, perubahan penggunaan lahan dan transformasi lanskap menjadi salah satu bidang yang dapat dikembangkan lebih lanjut dalam kerja sama penelitian antara Untad dan universitas-universitas di Jerman.
“Sebagian besar penelitian yang dilakukan antara kedua negara ini berfokus pada perubahan penggunaan lahan dan transformasi pemanfaatan lahan,” jelasnya.
Ia juga memperkenalkan posisi strategis Sulawesi Tengah yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati sekaligus menghadapi tantangan pembangunan ekonomi yang sangat pesat, terutama melalui perkembangan industri nikel dan aktivitas berbasis sumber daya alam lainnya.
Kondisi tersebut, lanjut Aiyen, menempatkan Untad pada posisi penting dalam menghasilkan inovasi, penelitian, dan sumber daya manusia yang dapat mendukung pembangunan daerah secara berkelanjutan.
“Banyak pemangku kepentingan sangat bergantung pada peran dan kontribusi Universitas Tadulako,” ujar Aiyen.
Dengan jumlah mahasiswa yang mencapai sekitar 50.000 orang dan sekitar 9.000 mahasiswa baru setiap tahun, Untad memiliki tanggung jawab besar dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia di Sulawesi Tengah.
Aiyen juga menyampaikan bahwa komunikasi dan kerja sama dengan sejumlah mitra dari Jerman selama ini telah berjalan melalui kunjungan akademisi, dosen tamu, serta pertukaran mahasiswa. Namun, Untad berharap hubungan tersebut dapat ditingkatkan menjadi kerja sama yang lebih konkret dan berkelanjutan.
“Kami berharap kunjungan hari ini tidak hanya menjadi pertemuan seremonial, tetapi dapat menghasilkan dampak nyata yang dilanjutkan dalam bentuk kemitraan di bidang pendidikan,” katanya.
Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan mengenai Germany–UNTAD Research Partnership, perkembangan kerja sama riset Untad, serta roadmap pengembangan kolaborasi akademik. Agenda tersebut juga diisi dengan diskusi strategis mengenai peluang penguatan penelitian dan kerja sama akademik antara Jerman dan Universitas Tadulako.
Dalam kunjungan tersebut, Dubes Jerman didampingi Dr. Angelika Stauder dan Elisabeth Taher dari Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, serta perwakilan GIZ, yakni Hans-Ludwig Bruns selaku Country Director, Florian Moder selaku Cluster Coordinator, Jonas Dallinger selaku Implementation Manager SASCI+, dan Yuliana Cahya Wulan selaku Commission Manager SOLUSI. *














