Karama.id – Palu, Masalah tumpukan limbah kulit durian yang selama ini hanya berakhir sebagai sampah organik di kawasan perkotaan kini mulai menemukan solusi produktif. Melalui riset yang dikembangkan sejak 2020, Guru Besar Fakultas Peternakan dan Perikanan (Fapetkan) Universitas Tadulako (Untad), Prof. Dr. Padang Hamid, S.Pt., M.Si., berhasil mengolah limbah tersebut menjadi pakan ternak alternatif bernilai gizi tinggi.
Inovasi ini lahir sebagai respons terhadap dua persoalan yang selama ini membayangi sektor peternakan di Sulawesi Tengah yakni meningkatnya volume limbah organik di perkotaan serta tingginya biaya pakan yang membebani peternak.

Menurut Prof. Padang, komponen pakan dapat menyerap sekitar 60 hingga 80 persen dari total biaya produksi peternakan, sehingga upaya efisiensi menjadi kebutuhan mendesak.
“Pemanfaatan kulit durian kami dorong karena bahannya sangat melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal. Ini sekaligus menjadi solusi untuk menekan pencemaran lingkungan dan membantu peternak menurunkan biaya usaha,” ujar Prof. Padang.
Dalam proses pengembangannya, riset ini menggunakan tiga pendekatan pengolahan, yakni fisik, kimia, dan biologi. Tahap awal dilakukan dengan mengeringkan kulit durian di bawah sinar matahari selama lima hingga enam hari sebelum digiling menjadi tepung.
Selanjutnya, bahan tersebut diperkaya nilai nutrisinya melalui proses amoniasi dengan penambahan urea atau filtrat abu sekam padi. Tahap terakhir adalah fermentasi biologis selama sekitar 21 hari, hingga bahan siap digunakan sebagai campuran konsentrat pakan.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa pakan berbasis limbah kulit durian ini memberikan dampak positif terhadap performa ternak. Selain meningkatkan pertambahan bobot badan dan bobot karkas, pakan tersebut juga terbukti aman secara fisiologis maupun hematologis. Tingkat palatabilitas, atau kesukaan ternak terhadap pakan ini, juga tergolong tinggi.
“Limbah yang sebelumnya hanya menimbulkan bau tidak sedap dan berpotensi menjadi sumber penyakit kini dapat diubah menjadi produk yang bernilai ekonomi dan mendukung produktivitas ternak,” jelasnya.
Secara akademik, penelitian ini juga telah mendapat pengakuan melalui publikasi di berbagai jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus serta jurnal nasional terakreditasi. Dalam proses pengembangannya, riset ini turut melibatkan mahasiswa Fapetkan Untad sebagai bagian dari penguatan kapasitas riset di lingkungan kampus.
Ke depan, Prof. Padang memproyeksikan inovasi ini dapat mendukung pengembangan sentra kambing perah pertama di Sulawesi Tengah, khususnya melalui persilangan kambing lokal dengan jenis Saanen.
Ia meyakini kemandirian pakan berbasis limbah organik dapat menjadi salah satu pilar penting dalam memperkuat ekonomi peternakan rakyat.
“Harapan kami, inovasi ini dapat menjadi model integrasi berkelanjutan bagi pemerintah daerah dalam mengelola limbah organik sekaligus menciptakan efisiensi nyata bagi usaha peternakan masyarakat,” pungkasnya.














