Menu ✖

Mode Gelap
Pedang Pora Warnai Pelepasan Wakapolda Sulteng Helmi Kwarta ke Mabes Polri Kapolda Rizal Irawan Pimpin Sertijab Wakapolda Sulteng dan Kapolres Parimo Hadiri Pesantren Lansia, Wagub Reny Ajak Lansia Jaga Kesehatan dan Perkuat Iman Kapolda Sulteng Gelar Jumat Keliling, Ajak Masyarakat Jaga Keamanan Bersama Buka Festival Danau Poso 2026, Anwar Hafid Tekankan Budaya, Lingkungan, dan Ekonomi Rakyat Polda Sulteng dan BNNP Kembali Gerebek Kayumalue, Dua Orang Diamankan

Pendidikan

Universitas Tadulako dan Jepang Bersinergi: Kelor sebagai Solusi Ekonomi dan Lingkungan

badge-check


					Foto Bersama PPLH dan Rektor Universitas Tadulako (Foto: Istimewa) Perbesar

Foto Bersama PPLH dan Rektor Universitas Tadulako (Foto: Istimewa)

Karama.id – Palu, Universitas Tadulako (UNTAD) menerima kunjungan istimewa dari delegasi perusahaan Jepang, JP Nusantara dan Green Power, guna menjajaki peluang pengembangan budidaya kelor di lingkungan kampus. Pertemuan ini turut dihadiri oleh Rektor UNTAD, perwakilan dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH UNTAD), serta para akademisi yang meneliti kelor sebagai komoditas potensial. Kunjungan ini menjadi langkah awal dalam membangun kerja sama strategis untuk mengembangkan kelor sebagai produk bernilai ekonomi, ekologis, dan sosial secara berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Rektor UNTAD menyampaikan apresiasi terhadap ketertarikan investor Jepang dalam pengembangan kelor di Sulawesi Tengah. Delegasi Jepang yang dipimpin oleh Isono Kenichi (CEO JP Nusantara Co. Ltd) dan Minakata (CEO Green Power) memaparkan visi mereka mengenai proyek kelor di Indonesia.

JP Nusantara merupakan perusahaan konsultan yang menghubungkan investor Jepang dengan Indonesia dalam berbagai bidang, termasuk pengembangan produk dan investasi strategis. Sementara itu, Green Power secara khusus didirikan untuk mendukung proyek budidaya kelor di Indonesia, termasuk menghubungkannya dengan pasar carbon credit di Jepang. Saat ini, sudah ada 11 calon pembeli dari Jepang yang tertarik dengan potensi kredit karbon dari proyek kelor ini.

Survei Potensi Kelor dan Rencana Pengembangan
Usai presentasi, delegasi Jepang bersama tim dari UNTAD melakukan survei lapangan untuk meninjau potensi lahan kelor di area kampus. Lahan ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi kawasan budidaya kelor sebagai bagian dari program penghijauan serta mitigasi perubahan iklim. Selain itu, mereka juga mengunjungi pusat pengolahan kelor yang dikelola oleh UMKM setempat yang telah menjalin kolaborasi erat dengan penelitian akademisi UNTAD. Survei berlanjut ke wilayah Kawatuna, yang telah lebih dulu menjadi sentra perkebunan kelor di Palu.

Kelorisasi Kampus Tadulako: Menuju Kampus Berwawasan Lingkungan
Muhd Nur Sangadji, Kepala PPLH UNTAD, menegaskan bahwa kelor bukan sekadar tanaman pangan, tetapi juga memiliki peran penting dalam ekologi. Berdasarkan penelitian awal, kelor mampu menyerap karbon dioksida hingga 20 kali lebih efektif dibandingkan tanaman lain, sehingga menjadi solusi potensial dalam menurunkan emisi gas rumah kaca dan mendukung perdagangan karbon global.

Menurut Sangadji, kelorisasi kampus Tadulako menjadi strategi penting dalam membangun lingkungan hijau dan mendukung visi universitas sebagai pusat penelitian berbasis lingkungan bertaraf internasional. Dengan luas lahan yang tersedia, UNTAD memiliki peluang besar untuk mengembangkan perkebunan kelor yang tidak hanya berkontribusi terhadap ekologi tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi mahasiswa dan masyarakat sekitar.

“Jika proyek ini berhasil, mahasiswa dan alumni bisa terlibat dalam pengelolaannya. Selain menciptakan lapangan kerja, proyek ini juga dapat membantu mahasiswa memperoleh penghasilan tambahan serta mengurangi keterlambatan pembayaran UKT,” jelas Sangadji.

Peluang Ekonomi dan Tantangan Budidaya Kelor
Saat ini, kelor memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Harga daun kelor segar di pasaran mencapai Rp5.000 per kilogram, sementara kelor kering dapat mencapai Rp50.000 hingga Rp75.000 per kilogram. Produk olahan seperti teh kelor dihargai sekitar Rp30.000 per kotak, dan kapsul kelor bisa mencapai Rp300.000 per botol. Selain itu, mekanisme perdagangan karbon semakin meningkatkan nilai ekonomis kelor, menjadikannya aset bernilai bagi petani dan pelaku budidaya.

Pihak Jepang menargetkan UNTAD untuk dapat memasok 5 ton daun kelor setiap bulan. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana mewujudkan produksi dalam skala besar secara berkelanjutan. Salah satu strategi yang ditawarkan adalah mengajak masyarakat Palu untuk menanam kelor di pekarangan rumah mereka. Jika setiap rumah tangga menanam 10 pohon kelor, maka secara kolektif, jumlah pohon yang ditanam bisa mencapai 600.000, setara dengan 120 hektar lahan hijau.

Kelorisasi Tapal Batas: Solusi Berkelanjutan untuk Lingkungan
Selain di lingkungan kampus, PPLH UNTAD juga mengusulkan konsep kelorisasi tapal batas, yaitu penanaman kelor di lahan-lahan kritis dan tidak produktif. Dengan prinsip economically profitable, technically possible, socially acceptable, dan local resources supportable, kelor diharapkan menjadi inovasi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keseimbangan ekologi.

Kolaborasi antara Universitas Tadulako dengan JP Nusantara dan Green Power membuka peluang besar bagi pengembangan kelor di Sulawesi Tengah. Jika proyek ini dapat direalisasikan secara optimal, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan kampus, tetapi juga masyarakat luas yang terlibat dalam ekonomi hijau berbasis kelor. Dengan dukungan riset akademik, teknologi pengolahan, serta akses ke pasar global, kelorisasi berpotensi menjadi gerakan berkelanjutan yang membawa perubahan signifikan bagi ekologi dan ekonomi lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Pendidikan