Menu ✖

Mode Gelap
Pedang Pora Warnai Pelepasan Wakapolda Sulteng Helmi Kwarta ke Mabes Polri Kapolda Rizal Irawan Pimpin Sertijab Wakapolda Sulteng dan Kapolres Parimo Hadiri Pesantren Lansia, Wagub Reny Ajak Lansia Jaga Kesehatan dan Perkuat Iman Kapolda Sulteng Gelar Jumat Keliling, Ajak Masyarakat Jaga Keamanan Bersama Buka Festival Danau Poso 2026, Anwar Hafid Tekankan Budaya, Lingkungan, dan Ekonomi Rakyat Polda Sulteng dan BNNP Kembali Gerebek Kayumalue, Dua Orang Diamankan

Pendidikan

Universitas Tadulako Tuan Rumah TWKM XXXIV: Mahasiswa Pecinta Alam Suarakan Keadilan Ekologi

badge-check


					Foto Bersama Peserta TWKM XXXIV, (Foto Istimewa) Perbesar

Foto Bersama Peserta TWKM XXXIV, (Foto Istimewa)

Karama.id – Palu, Universitas Tadulako (Untad) menjadi tuan rumah pelaksanaan kegiatan nasional Temu Wicara dan Kenal Medan (TWKM) ke-XXXIV Mahasiswa Pecinta Alam tingkat perguruan tinggi se-Indonesia. Kegiatan ini mengangkat tema “Peran Mahasiswa Pecinta Alam dalam Mewujudkan Keadilan Ekologi di Indonesia” dengan kampanye utama bertajuk #PulihkanSulteng sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi ekologis di Sulawesi Tengah.

Acara pembukaan yang digelar di Auditorium Untad dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Staf Ahli Gubernur Sulawesi Tengah Bidang Sumber Daya Manusia dan Pengembangan Wilayah, Ihsan Basir, S.H., L.L.M., selaku perwakilan resmi Pemerintah Provinsi; Ketua Senat Untad, Prof. Dr. H. Djayani Nurdin, S.E., M.Si.; Penasehat Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Ir. Jefri Susirianto, M.M.; Koordinator Nasional Mahasiswa Pecinta Alam Perguruan Tinggi se-Indonesia, serta sejumlah undangan lainnya dari berbagai perguruan tinggi.

Dalam laporan pelaksanaan, Ketua Panitia, Ibnu, menyampaikan bahwa TWKM ke-34 ini diselenggarakan secara multi-lokasi, antara lain di Kabupaten Parigi Moutong untuk kegiatan panjat tebing, Kabupaten Banggai untuk kegiatan eksplorasi medan, dan Kabupaten Sigi, khususnya di kawasan Gunung Gawalise, untuk kegiatan peliputan isu lingkungan. Tema besar kegiatan diharapkan dapat memperkuat solidaritas dan sinergi antaranggota Mapala, serta menumbuhkan nilai adaptif, inovatif, progresif, dan kreatif dalam menjawab tantangan ekologi nasional.

Ketua Mapala Untad, Rinal Afriandi, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk menyuarakan dampak kerusakan lingkungan terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Ia menegaskan bahwa Mapala harus hadir sebagai agen perubahan yang responsif terhadap isu-isu ekologis.

Koordinator Nasional Mapala Perguruan Tinggi se-Indonesia, Vivaldi Ambri Nobel, dalam sambutannya menyoroti pentingnya gerakan kolektif dalam menjaga keberlanjutan ekosistem, khususnya di wilayah Sulawesi Tengah. Ia menekankan bahwa tagar #PulihkanSulteng bukan sekadar simbol, tetapi ajakan bersama untuk bertindak nyata dalam pelestarian lingkungan hidup.

Senada dengan itu, Ketua Senat Universitas Tadulako, Prof. Dr. H. Djayani Nurdin, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa sebagai tuan rumah, Untad berkomitmen menyediakan ruang yang nyaman dan inspiratif bagi seluruh peserta. Ia mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk senantiasa menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan keberlanjutan lingkungan, serta berkontribusi aktif dalam menjaga sumber daya alam Indonesia.

Sementara itu, mewakili Gubernur Sulawesi Tengah, Ihsan Basir, S.H., L.L.M., menyatakan bahwa TWKM tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antarmahasiswa, tetapi juga sarana membangun kolaborasi antarorganisasi pecinta alam dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Pemerintah Provinsi, ujarnya, sangat mendukung kegiatan ini dan mengharapkan keterlibatan aktif mahasiswa dalam menyukseskan sembilan program unggulan pembangunan daerah.

Penutupan kegiatan diwarnai dengan penyampaian sambutan dari Penasehat Menteri Kehutanan RI, Ir. Jefri Susirianto, M.M., yang menekankan pentingnya peran Mapala sebagai mitra strategis pemerintah dalam konservasi dan edukasi lingkungan. Menurutnya, pelestarian keanekaragaman hayati tidak hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

“Mapala harus tetap menjadi ruang pembelajaran, penguatan karakter, dan penggerak perubahan menuju kelestarian lingkungan hidup yang berkelanjutan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Pendidikan