Karama.id – Palu, Universitas Tadulako (Untad) menegaskan komitmennya mendukung program swasembada pangan yang menjadi salah satu agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui penguatan riset, pengabdian kepada masyarakat, serta kolaborasi dengan pemerintah dan dunia usaha.
Rektor Untad Prof. Amar mengatakan, ketahanan pangan bukan sekadar wacana bagi perguruan tinggi, tetapi telah diwujudkan melalui berbagai program yang melibatkan mahasiswa, masyarakat, pemerintah, hingga sektor industri di Sulawesi Tengah.

“Bagi Untad, ketahanan pangan bukan hanya sebuah wacana. Untad sudah bergerak, pada tahun 2025, Untad sudah mengambil bagian dalam program swasembada pangan,” kata Amar di Palu, Kamis (20/8/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Amar di hadapan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam rangkaian Dies Natalis ke-45 dan Wisuda ke-138 Untad di Kampus Untad Palu.
Amar menjelaskan, keterlibatan Untad dalam penguatan ketahanan pangan telah dimulai sejak 2025 melalui kegiatan penanaman jagung serentak dan pemanfaatan lahan perhutanan sosial di Kabupaten Sigi. Program tersebut mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat dalam mendorong kemandirian pangan berbasis potensi daerah.
Memasuki 2026, keterlibatan tersebut kembali diperkuat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) kolaborasi Untad dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Kabupaten Donggala. Salah satu fokus dalam program tersebut adalah penguatan ketahanan pangan.
“Bagi Untad, mahasiswa bukan hanya belajar di ruang kelas. Tetapi bagaimana mahasiswa menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat,” tegasnya.
Selain melalui program pengabdian, Untad juga mengembangkan berbagai riset pertanian yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan petani.
Salah satunya adalah pengembangan melon premium dengan konsep smart farming. Budidaya tersebut dilakukan menggunakan rumah kaca dan sistem hidroponik pada lahan seluas 300 meter persegi dengan potensi keuntungan mencapai sekitar Rp25 juta setiap tiga bulan.
Untad juga mengembangkan budidaya semangka berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT). Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk memantau berbagai kondisi tanaman, seperti kelembapan tanah, suhu, dan kualitas lingkungan budidaya.
Riset lainnya dilakukan melalui pengembangan tanaman ketimun untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan industri sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan perekonomian daerah.
Tidak hanya hortikultura, Untad juga mengembangkan riset padi lokal atau padi gogo. Penelitian tersebut mencakup karakteristik agronomis, respons tanaman terhadap berbagai kondisi lingkungan, hingga upaya meningkatkan produktivitas padi lokal.
Menurut Amar, berbagai riset tersebut menunjukkan arah pengembangan pertanian yang semakin mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perguruan tinggi, kata dia, memiliki peran penting dalam memastikan inovasi pertanian tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diterapkan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Inilah gambaran pertanian masa depan yang ingin dibangun, yakni pertanian yang berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, data, dan nilai tambah bagi petani,” katanya.
Melalui berbagai program tersebut, Untad berharap dapat terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung swasembada pangan sekaligus mendorong lahirnya inovasi pertanian yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan Sulawesi Tengah. *














