Karama.id – Palu, Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Tengah menjadi momentum reflektif bagi pemerintah daerah dalam memperkuat komitmen pengabdian kepada masyarakat. Dalam pidatonya, Gubernur Sulawesi Tengah menyampaikan pesan emosional dengan mengibaratkan provinsi ini sebagai sosok “ibu” bagi seluruh rakyatnya.
Menurut Gubernur, Sulawesi Tengah adalah “rahim” yang telah melahirkan sekitar 3,7 juta penduduk, 13 kabupaten/kota, serta ribuan desa dan kelurahan. Dari wilayah ini pula lahir berbagai tokoh bangsa, mulai dari pemimpin daerah, akademisi, hingga aparat negara.

“Sebagai anak yang tahu diri dan bisa membalas jasa orang tuanya, maka hari ini mari kita memberikan yang terbaik bagi ibu kita. Pengabdian seorang anak tidak boleh terbatas,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga melontarkan kritik tajam terhadap pola pengabdian yang dinilai masih bersifat normatif. Ia menegaskan bahwa pola kepemimpinan yang hanya berorientasi pada kepentingan administratif, jabatan, maupun peningkatan tunjangan tidak akan membawa kemajuan bagi daerah.
“Sudah saatnya kita meninggalkan model pengabdian yang normatif. Daerah ini tidak akan maju jika kita hanya berpikir untuk kepentingan pribadi atau sekadar melanjutkan jabatan,” tegasnya.
Di tengah suasana peringatan, Gubernur turut memaparkan sejumlah persoalan mendasar yang masih dihadapi Sulawesi Tengah. Ia mengungkapkan bahwa masih terdapat sekitar 331 ribu masyarakat yang hidup dalam kondisi kurang beruntung. Selain itu, sekitar 80 ribu rumah tidak layak huni (RTLH) masih tersebar di berbagai wilayah.
Ia menggambarkan kondisi warga di pelosok yang masih hidup dalam keterbatasan, bahkan harus bertahan di rumah yang tidak layak, tanpa perlindungan memadai.
“Ibu kita tidak meminta yang lain. Ia hanya meminta kita menyelamatkan saudara-saudara kita yang belum beruntung,” ungkapnya.
Menutup pidatonya, Gubernur mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dalam semangat “Sulteng Nambaso”. Ia menekankan pentingnya kolaborasi nyata, bukan sekadar simbolik, dalam membangun daerah.
Menurutnya, setiap pihak yang memiliki kelebihan, baik kekuasaan, sumber daya, maupun kemampuan, harus mengambil peran dalam upaya menyejahterakan masyarakat.
“Mari kita bergandengan tangan. Kita semua bersaudara dan dilahirkan dari ruang geografis yang sama. Sudah saatnya kita bekerja bersama, bukan hanya sekadar bersama-sama,” pungkasnya.
Peringatan HUT ke-62 ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga menjadi titik balik dalam memperkuat komitmen pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah secara menyeluruh.














