Menu ✖

Mode Gelap
Pedang Pora Warnai Pelepasan Wakapolda Sulteng Helmi Kwarta ke Mabes Polri Kapolda Rizal Irawan Pimpin Sertijab Wakapolda Sulteng dan Kapolres Parimo Hadiri Pesantren Lansia, Wagub Reny Ajak Lansia Jaga Kesehatan dan Perkuat Iman Kapolda Sulteng Gelar Jumat Keliling, Ajak Masyarakat Jaga Keamanan Bersama Buka Festival Danau Poso 2026, Anwar Hafid Tekankan Budaya, Lingkungan, dan Ekonomi Rakyat Polda Sulteng dan BNNP Kembali Gerebek Kayumalue, Dua Orang Diamankan

Sulawesi

Kasus HIV di Sulawesi Tengah Terus Meningkat, Dinkes Ingatkan Pentingnya Pencegahan

badge-check


					Ilustrasi. (Foto: Istimewa) Perbesar

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Karama.id – Palu,

Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Sulawesi Tengah terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Hingga Oktober 2025, jumlah kasus HIV tercatat mencapai 658 kasus dan diperkirakan akan menembus angka 710 hingga 720 kasus hingga akhir tahun.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Jumriani, mengatakan angka tersebut berpotensi melampaui jumlah temuan pada tahun 2024.

“Jumlah ini kemungkinan besar akan melampaui temuan tahun 2024,” ujar dr. Jumriani, Kamis (11/12/2025).

Ia menjelaskan, Kota Palu masih menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi. Pada 2023 tercatat 245 kasus, meningkat menjadi 326 kasus pada 2024, dan hingga Oktober 2025 sudah mencapai 283 kasus. Selain Palu, Kabupaten Morowali dan Banggai juga konsisten berada dalam tiga besar daerah dengan temuan HIV tertinggi di Sulawesi Tengah.

Menurut dr. Jumriani, tingginya mobilitas penduduk, khususnya arus pendatang, menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah kasus.

“Transportasi dan mobilitas masyarakat yang semakin lancar turut meningkatkan potensi penularan,” jelasnya.

Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah menegaskan bahwa data pasien HIV dilindungi secara ketat guna mencegah stigma dan diskriminasi. Ia juga meluruskan pemahaman masyarakat bahwa HIV tidak menular melalui sentuhan fisik atau air liur, melainkan melalui penggunaan jarum suntik bersama, hubungan seksual tidak aman, atau transfusi darah yang tidak steril.

Masyarakat diimbau untuk menerapkan perilaku seksual yang aman, minimal dengan menggunakan kondom, atau lebih baik lagi menghindari seks bebas sebagai langkah pencegahan.

“HIV masih bisa dikendalikan sebelum berkembang menjadi AIDS. Namun jika sudah memasuki stadium AIDS, risiko kematian akan jauh lebih tinggi karena daya tahan tubuh menurun drastis,” ungkapnya.

Kekhawatiran juga muncul karena kasus HIV mulai ditemukan pada kelompok usia remaja, bahkan anak-anak berusia 12 hingga 14 tahun. Penularan pada usia ini terjadi baik melalui transmisi dari ibu ke anak saat kehamilan maupun akibat pergaulan bebas.

“Kami berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat, baik dalam pencegahan maupun pemeriksaan rutin. Deteksi dini sangat penting untuk menekan dampak HIV,” pungkas dr. Jumriani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Sulawesi