Karama.id – Jakarta, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus membuka peluang lebih luas bagi lulusan vokasi untuk bekerja sebagai pekerja migran Indonesia profesional. Langkah ini diwujudkan melalui kerja sama strategis dengan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) dan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI). Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman yang berlangsung di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti serta Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menandatangani kesepakatan ini sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan vokasi dan memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan, industri, serta pasar tenaga kerja.

Kerja sama ini juga menjadi bentuk dukungan Kemendikdasmen terhadap tenaga kerja migran, yang selama ini berkontribusi sebagai salah satu penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia.
“Saya yakin, inisiatif ini dapat menjadi proyek percontohan dalam menjawab tingginya minat lulusan SMK dan vokasi untuk berkarier di luar negeri,” ujar Abdul Mu’ti dalam keterangan tertulis.
Saat ini, dari sekitar 5,2 juta pekerja migran Indonesia di luar negeri, sekitar 57 persen bekerja di sektor informal, dan 70 persennya merupakan lulusan SD dan SMP. Melalui kerja sama ini, pemerintah menargetkan peningkatan jumlah pekerja migran yang memiliki keahlian dan sertifikasi yang sesuai dengan standar internasional, sehingga mereka dapat lebih kompetitif di pasar global.
Mu’ti menjelaskan bahwa Kemendikdasmen dan Kemenaker akan mengembangkan program pelatihan dan sertifikasi bagi siswa dan alumni vokasi. Lulusan SMK dan LKP tidak hanya akan mendapat pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) Kemenaker tetapi juga memperoleh sertifikasi standar industri untuk meningkatkan daya saing mereka di dunia kerja.
“Kami berharap, BP2MI dapat memfasilitasi penempatan lulusan vokasi ke industri luar negeri yang membutuhkan tenaga kerja profesional. Semoga kerja sama ini segera direalisasikan,” tambahnya.
Menaker Yassierli menekankan bahwa inisiatif ini merupakan langkah strategis dalam menangani berbagai tantangan ketenagakerjaan di Indonesia, termasuk tingkat kebekerjaan lulusan vokasi, produktivitas tenaga kerja, dan peningkatan daya saing sumber daya manusia.
“Melalui kerja sama ini, saya optimistis bahwa lulusan SMK unggulan yang telah dipetakan Kemendikdasmen bisa mendapatkan upskilling dan reskilling di BLK, sehingga mereka siap mengisi kebutuhan pekerjaan di masa depan,” ujar Yassierli.
Sementara itu, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Abdul Kadir Karding, menegaskan bahwa kolaborasi ini bertujuan untuk membangun ekosistem vokasi yang lebih kuat guna menyiapkan tenaga kerja migran Indonesia yang profesional.
“Kerja sama ini krusial karena tata kelola perlindungan pekerja migran harus didukung oleh peningkatan kompetensi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Karding menyebut bahwa pihaknya akan melakukan pemetaan kebutuhan tenaga kerja global dan menghubungkannya dengan lulusan SMK dan LKP.
“Dengan kerja sama ini, kita bisa lebih siap dalam mencetak tenaga kerja migran Indonesia yang lebih profesional dan kompetitif,” tutupnya.














