Menu ✖

Mode Gelap
Pedang Pora Warnai Pelepasan Wakapolda Sulteng Helmi Kwarta ke Mabes Polri Kapolda Rizal Irawan Pimpin Sertijab Wakapolda Sulteng dan Kapolres Parimo Hadiri Pesantren Lansia, Wagub Reny Ajak Lansia Jaga Kesehatan dan Perkuat Iman Kapolda Sulteng Gelar Jumat Keliling, Ajak Masyarakat Jaga Keamanan Bersama Buka Festival Danau Poso 2026, Anwar Hafid Tekankan Budaya, Lingkungan, dan Ekonomi Rakyat Polda Sulteng dan BNNP Kembali Gerebek Kayumalue, Dua Orang Diamankan

Pendidikan

MIPA Beyond Inspiration, FMIPA Untad Refleksikan Kebencanaan dan Jejak Pengabdian Abdullah

badge-check


					Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Tadulako (Untad) menggelar Special Event MIPA Beyond Inspiration Melalui Dialog Interaktif Bertajuk “Menyikapi Bumi, Membagikan Info: Refleksi Pengamat Kebencanaan Sulawesi Tengah” di Aula FMIPA Untad. (Foto: Istimewa) Perbesar

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Tadulako (Untad) menggelar Special Event MIPA Beyond Inspiration Melalui Dialog Interaktif Bertajuk “Menyikapi Bumi, Membagikan Info: Refleksi Pengamat Kebencanaan Sulawesi Tengah” di Aula FMIPA Untad. (Foto: Istimewa)

Karama.id – Palu, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Tadulako (Untad) menggelar Special Event MIPA Beyond Inspiration melalui dialog interaktif bertajuk “Menyikapi Bumi, Membagikan Info: Refleksi Pengamat Kebencanaan Sulawesi Tengah” di Aula FMIPA Untad, Jumat (25/9/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-19 FMIPA Untad sekaligus menjadi ruang refleksi menjelang sewindu peristiwa bencana Sulawesi Tengah (Sulteng) pada 28 September 2018. Forum ini juga menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan pengabdian Drs. Ir. Abdullah, M.T., yang dijadwalkan memasuki masa pensiun pada Maret 2027.

Dekan FMIPA Untad, Prof. Dr. Lufsyi Mahmudin, S.Si., M.Si., mengatakan perjalanan FMIPA Untad telah berlangsung cukup panjang. Menurutnya, momentum dies natalis tidak hanya menjadi perayaan usia fakultas, tetapi juga ruang untuk melihat kembali perjalanan keilmuan dan kontribusi FMIPA bagi masyarakat.

Baca Juga:
Gempa M6,7 Guncang Palu, Sejumlah Gedung Pascarekonstruksi 2018 di Untad Kembali Mengalami Kerusakan

“Memasuki usia ini, kita harus mengubah inspirasi menjadi aksi, pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi inovasi, inovasi menjadi pengabdian dan pengabdian menjadi karya nyata bagi masyarakat,” ujar Prof. Lufsyi.

Dalam dialog tersebut, Abdullah tampil sebagai narasumber utama bersama dua panelis, Prof. Dr. Ir. Naharuddin, S.Pd., M.Si., dan Dr. Anwar Dolu, S.T., M.T. Ketiganya membincangkan pengalaman riset dan pengamatan kebencanaan yang mereka jalani, sekaligus berbagi pandangan mengenai berbagai aspek kebencanaan di Sulteng.

Pembahasan tidak hanya merefleksikan peristiwa 28 September 2018, tetapi juga mengulas pengalaman penelitian, karakter kebencanaan di Sulteng, persoalan lingkungan, mitigasi, serta pentingnya menjadikan pengalaman dan hasil riset sebagai pengetahuan yang dapat memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.

Forum tersebut menjadi ruang pertukaran pengalaman antarakademisi yang memiliki perhatian terhadap isu kebencanaan. Pengalaman riset dipertemukan dengan berbagai persoalan nyata di Sulteng, sehingga kebencanaan tidak hanya dipandang sebagai persoalan ketika bencana terjadi, tetapi juga membutuhkan penelitian, dokumentasi, mitigasi dan penguatan kapasitas masyarakat.

Pembahasan juga menyinggung perjalanan Abdullah dalam bidang geofisika dan kebencanaan. Ia merupakan salah satu tokoh dalam perjalanan awal FMIPA Untad dan pernah dipercaya sebagai Dekan pertama FMIPA. Kiprahnya juga berkaitan dengan pengembangan kajian kebencanaan di Sulteng, termasuk perhatian terhadap mitigasi dan fenomena Sesar Palu-Koro.

Sejumlah karya Abdullah mengenai kebencanaan turut menjadi bagian dari refleksi dalam dialog, termasuk tulisan mengenai Gempa Bora, Sesar Palu-Koro, serta pembahasan mengenai jejak kebencanaan di Lembah Palu.

Menjelang masa purnatugas Abdullah, FMIPA Untad turut mendukung upaya untuk mendokumentasikan dan menerbitkan karya-karyanya mengenai kebencanaan di Sulteng. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari rekam pengetahuan dan pengalaman riset yang dapat dimanfaatkan generasi akademik berikutnya maupun masyarakat.

Kegiatan dihadiri sivitas akademika FMIPA Untad, termasuk dari Program Studi Teknik Geofisika, serta sejumlah kolega Abdullah yang selama ini memiliki perhatian terhadap isu sejarah, lingkungan dan kebencanaan di Sulteng.

Baca Juga:
Untad Masuk 25 Kampus Paling Berprestasi Nasional Versi Puspresnas 2026

Di antara kolega yang hadir yakni Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Palu Ridwan Lapasere, arkeolog Iksam, M.Hum., Koordinator Komunitas Historia Sulawesi Tengah (KHST) Moh. Herianto, serta Singgih Prasetyo, mantan pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Palu yang kini menjadi staf ahli Wali Kota Palu. Hadir pula mantan Kepala Bappeda Kota Palu Rahmad Gunawan, Tasrief Siara, serta sejumlah kolega lainnya.

Kehadiran para kolega tersebut turut memperlihatkan jejaring keilmuan dan sosial yang selama ini terbangun di sekitar Abdullah, khususnya dalam kajian sejarah, lingkungan dan kebencanaan di Sulawesi Tengah.

Dekan FMIPA berharap dialog tersebut tidak berhenti sebagai forum refleksi, tetapi dapat mendorong lahirnya pengetahuan dan karya yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

“Kami berharap dialog ini menjadi sarana refleksi bagi kita semua untuk lebih menjaga lingkungan serta membentuk masyarakat yang tangguh,” katanya.

Melalui MIPA Beyond Inspiration, FMIPA Untad mendorong agar pengalaman akademisi senior tidak berhenti sebagai catatan perjalanan, tetapi diteruskan melalui proses dokumentasi, penelitian, inovasi dan pengabdian. Forum ini sekaligus menjadi ruang transfer pengetahuan lintas generasi dalam memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap upaya pengurangan risiko bencana di Sulteng. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Pendidikan