Karama.id – Palu, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tadulako (Untad) mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, pemerintah, dan dunia usaha dalam The 4th Tadulako International Conference on Economics and Business (TICEB) 2026.
Konferensi yang berlangsung pada 5–6 Oktober 2026 di Hotel Best Western Plus Coco Palu tersebut mengusung tema “Navigating Economic Transformation Through Innovation, Governance, and Sustainability”. Forum ini membahas berbagai tantangan dan peluang dalam menghadapi transformasi ekonomi.

Ketua Panitia TICEB 2026 Moh. Failur Rahman, S.Pd., M.Sc. mengatakan lebih dari 120 makalah terkumpul melalui call for papers. Selain konferensi internasional, TICEB tahun ini juga memperkenalkan International Consortium yang dirancang memperluas keterlibatan sektor riil di Sulawesi Tengah, khususnya pelaku UMKM.
Rektor Untad Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., menekankan transformasi ekonomi tidak lagi cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi semata. Menurutnya, transformasi harus berjalan bersama inovasi, tata kelola yang bertanggung jawab, inklusivitas, dan keberlanjutan.
Ia juga mendorong agar hasil riset tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi mampu terhubung dengan kebijakan dan praktik pembangunan daerah.
“Universitas Tadulako berkomitmen menjadi mitra pengetahuan, inovasi, dan pembangunan daerah,” ujar Amar.
Pada rangkaian kegiatan tersebut, FEB Untad juga menandatangani nota kesepahaman dengan sejumlah perguruan tinggi dan mitra, yakni STIE AMKOP Makassar, Universitas Mulawarman, Universitas Abdul Azis Lamadjido, Universitas Tompotika Luwuk, PT Telkom Witel Sulbagteng, International Management Institute (IMI) India, serta The University of Faisalabad Pakistan.
Hari pertama TICEB menghadirkan lima keynote speaker dari sejumlah negara. Prof. Dr. Muhammad Ashfaq dari The University of Faisalabad, Pakistan, membahas strategi pemasaran inovatif berbasis data, kecerdasan buatan, perdagangan digital, nilai hijau, dan pemasaran inklusif.
Dari India, Prof. Dr. Sahana Roy Chowdhury dari International Management Institute Kolkata menyoroti pentingnya keterampilan, kelembagaan, dan kepercayaan dalam menghadapi guncangan ekonomi global.
Sementara Guru Besar Ekonomi Internasional Untad Prof. Mohamad Ahlis, S.E., DEA., Ph.D., mengangkat isu mineral kritis dan kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia menekankan kekayaan sumber daya alam tidak secara otomatis menghasilkan kesejahteraan tanpa tata kelola yang baik.
Perspektif lain disampaikan Prof. Felix Mavondo dari Monash University, Australia, mengenai orientasi pasar, pengetahuan pasar, dan inovasi untuk mendukung kinerja bisnis berkelanjutan. Adapun Asst. Prof. Dr. Tuğçe Metin dari Kahramanmaraş Sütçü İmam University, Türkiye, membahas pendekatan ekonomi perilaku dalam pemasaran berkelanjutan di negara berkembang.
Memasuki hari kedua, TICEB 2026 dilanjutkan melalui International Consortium yang untuk pertama kalinya menjadi bagian dari rangkaian konferensi tersebut. Forum ini mempertemukan akademisi, pemerintah, perbankan, dan dunia usaha untuk membahas persoalan sektor unggulan Sulawesi Tengah (Sulteng).
Dekan FEB Untad Prof. Wahyuningsih, S.E., M.Sc., Ph.D., mengatakan masukan dari forum konsorsium akan menjadi bahan dalam pengembangan kurikulum FEB Untad. Langkah tersebut sejalan dengan visi fakultas, “Go Global, Good Character”, untuk menyiapkan lulusan yang siap menghadapi dunia kerja sekaligus memiliki karakter yang baik.
Dalam forum tersebut, sambutan Gubernur Sulteng Anwar Hafid yang disampaikan Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Dr. Rudi Dewanto, S.E., M.M., menyoroti program Sembilan Berani serta potensi pengembangan komoditas unggulan seperti kelapa, durian, dan hasil perikanan melalui hilirisasi dan perluasan pasar ekspor.
Diskusi konsorsium dibagi dalam beberapa sektor, yaitu perikanan, perkebunan termasuk kelapa sawit, pertanian, industri kreatif, dan UMKM. Dengan pendekatan problem tree, peserta membahas akar persoalan dan alternatif solusi yang kemudian direncanakan dituangkan dalam bentuk book chapter dan policy brief sebagai bahan masukan bagi pemerintah provinsi maupun pemerintah kota.
Rektor Untad: Pascasarjana Harus Jadi Pusat Lahirnya Riset Berkualitas dan Pemimpin Berintegritas
Ketua DPP APINDO Sulteng Wijaya Chandra mengangkat fenomena “paradoks pertumbuhan ekstraktif”, yakni kondisi ketika pertumbuhan ekonomi tinggi belum sepenuhnya diikuti pemerataan manfaat bagi masyarakat lokal. Ia mendorong pengembangan ekonomi restoratif berbasis komunitas melalui sirkularitas, inovasi nilai tambah, serta kemitraan industri dan UMKM.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulteng Miftachul Choiri membahas peran pembiayaan dalam menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk melalui pendampingan UMKM dan penguatan pembiayaan hilirisasi komoditas seperti kakao, kopi, dan kelapa.
Sementara itu, Dr. Bandung Sahari bersama tim GAPKI membahas tantangan peningkatan produktivitas kebun kelapa sawit petani swadaya tanpa membuka lahan baru dengan tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan.
Rangkaian TICEB 2026 menempatkan forum akademik dan kolaborasi lintas sektor dalam satu ruang pembahasan. Selain menjadi wadah pertukaran pengetahuan, kegiatan tersebut membuka peluang kerja sama riset dan kemitraan sekaligus merumuskan gagasan yang ditujukan untuk mendukung pembangunan ekonomi Sulteng. *














