Karama.id – Palu, Lonjakan kasus campak di Sulawesi Tengah pada awal tahun 2026 memicu penetapan kejadian luar biasa (KLB) di sejumlah kabupaten dan kota, dengan Kota Palu mencatat jumlah kasus tertinggi.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan, hingga pekan ke-11 Maret 2026, jumlah kasus campak di Kota Palu mencapai 542 kasus, menjadikannya wilayah dengan angka tertinggi di provinsi tersebut.

Selain Kota Palu, status KLB juga telah ditetapkan di sejumlah daerah lain, yakni Kabupaten Donggala, Sigi, Tolitoli, Poso, dan Morowali Utara, menyusul peningkatan kasus yang terjadi dalam waktu relatif singkat.
Meski demikian, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah memastikan kondisi secara umum masih terkendali dan belum memenuhi kriteria untuk penetapan KLB di tingkat provinsi.
Ketua Tim Kerja Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Sulteng, Ahsan, mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan serta pemerintah kabupaten/kota guna mempercepat penanganan.
“Untuk penanggulangan, kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan, khususnya program imunisasi, serta kabupaten terkait dalam tata laksana penanggulangan KLB,” ujar Ahsan, Kamis (2/4/2026).
Ia menjelaskan, lonjakan kasus di Kota Palu menjadi dasar dilaksanakannya Outbreak Response Immunization (ORI) bagi anak usia 9 hingga 59 bulan.
“Untuk Kota Palu sendiri baru ditetapkan minggu kemarin karena ada peningkatan kasus, sehingga disarankan dilakukan ORI pada anak usia 9 sampai 59 bulan,” jelasnya.
Menurut Ahsan, tren peningkatan kasus campak tidak hanya terjadi di Sulawesi Tengah, tetapi juga secara nasional. Tingginya mobilitas penduduk antarwilayah turut mempercepat penyebaran penyakit tersebut.
Di sisi lain, cakupan imunisasi yang belum merata menjadi salah satu faktor utama belum terbentuknya kekebalan kelompok (herd immunity) secara optimal.
“Selama lima tahun terakhir, Sulawesi Tengah belum mampu mencapai target 95 persen cakupan imunisasi secara menyeluruh,” ungkapnya.
Secara medis, campak disebabkan oleh virus measles yang menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Penyakit ini tergolong sangat menular, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi.
Pemerintah daerah saat ini terus mengintensifkan program imunisasi tambahan serta mengimbau masyarakat untuk memastikan anak mendapatkan vaksin sesuai jadwal, khususnya pada kelompok usia balita yang paling rentan terpapar.
Langkah ini diharapkan mampu menekan lonjakan kasus sekaligus mencegah penyebaran campak yang lebih luas di wilayah Sulawesi Tengah.














